Categories
Umum

Kebutuhan Minyak Sawit Dua Kali Lipat Pada 2050

“KINI KITA sudah menjadi produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia. Namun kita tidak boleh lengah untuk terus berbenah diri agar dapat merebut pangsa pasar, baik minyak sawit maupun minyak nabati dunia yang terus bertumbuh,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Bagaimana posisi sawit Indonesia kini? Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia. Dengan luas kebun sawit sekitar 11,6 juta ha, kita menghasilkan sekitar 35,5 juta ton minyak sawit yang terdiri dari 32,5 juta ton minyak sawit mentah (CPO) dan 3 juta ton minyak inti (PKO). Dari total produksi minyak sawit dunia yang sekitar 66,8 juta ton, pangsa Indonesia sekitar 53%.

Dalam pasar empat minyak nabati utama dunia (sawit, kedelai, rapeseed, dan bunga matahari) yang produksinya pada 2016 sebesar 166,4 juta ton, pangsa Indonesia sekitar 21%. Jadi Indonesia bukan hanya produsen terbesar CPO dunia, tetapi juga produsen terbesar minyak nabati dunia.

Prestasi tersebut diperoleh terutama dari perluasan areal kebun (factor-driven). Namun sumber pertumbuhan minyak sawit secara ekstensifikasi sudah makin terbatas. Selain ketersediaan lahan yang makin terbatas, ekstensifikasi terus menerus juga menimbulkan biaya sosial dan ekologi sehingga tidak berkelanjutan. Karena itu, sudah saatnya perkebunan sawit kita naik kelas ke fase peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan barang modal (capital- driven) dan pemanfaatan inovasi teknologi (inno- vation-driven). Peningkatan produksi minyak sawit yang bersumber dari peningkatan produktivitas minyak per hektar, jauh lebih berkualitas dan berkelanjutan baik secara ekonomi, sosial maupun ekologis.

Apakah yang harus kita lakukan? Selama ini, minyak nabati dunia sekitar 83% dikonsumsi sebagai bahan pangan (oleofood) dan 17% sisanya untuk non-oleofood di luar biofuel. Berdasarkan data OECD/FAO pada 2015 rataan konsumsi oleofood sekitar 19 kg/kapita. Konsumsi per kapita tertinggi adalah Amerika Serikat dan Kanada (38 kg), UE (24 kg), China (22 kg), Indonesia (19 kg), dan India (15 kg). Jika konsumsi non-oleofood diperhitungkan, maka rataan konsumsi minyak nabati dunia baru mencapai sekitar 23 kg/kapita/tahun.

Berdasarkan proyeksi badan-badan dunia, penduduk dunia pada 2050 akan berjumlah sekitar 9,2 miliar jiwa. Jika konsumsi per kapita oleofood meningkat dari 19 kg menjadi 25 kg pada 2050, maka kebutuhan minyak nabati dunia untuk oleofood sekitar 230 juta ton. Bila penggunaan non-oleofood tetap seperti selama ini, yakni 17%, maka kebutuhan minyak nabati total pada 2050 sebesar 277 juta ton.

Produksi empat minyak nabati utama dunia pada 2015 sebesar 167,5 juta ton. Dengan proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia tersebut berarti diperlukan tambahan produksi 109,5 juta ton pada 2050. Untuk memenuhi tambahan kebutuhan tersebut, rapeseed dan bunga matahari sulit diharapkan. Sumber minyak yang masih dapat diharapkan dari kedelai dan sawit. Artinya minyak sawit dan minyak kedelai akan merebut tambahan kebutuhan minyak nabati sebesar 109,5 juta ton menuju 2050. Kalau tambahan kebutuhan minyak nabati dunia tersebut 50% saja dari sawit, berarti ada tambahan pasar minyak sawit sekitar 55 juta ton menuju 2050.

Hal ini berarti produksi minyak sawit dunia harus meningkat hampir dua kali lipat, dari 65,5 juta ton menjadi 120,3 juta ton. Proyeksi itu akan lebih besar lagi jika penggunaan minyak nabati untuk energi berubah menuju 2050. Saat ini konsumsi energi fosil dunia mencapai 5,4 triliun liter/tahun. Kalau satu persen saja energi fosil tersebut diganti dengan biofuel, maka ada tambahan kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 53,6 juta ton/tahun.

Untuk merebut pangsa pasar minyak nabati dunia menuju 2050, dari sekarang seyogyanya kita berupaya meningkatkan produktivitas dan tatakelola industri sawit nasional. Peluang peningkatan produktivitas industri sawit kita masih sangat besar sekaligus perbaikan tatakelolanya sehingga pada masa mendatang menjadi industri sawit yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *