Categories
Agribisnis

Sukses Memperkuat Bawang Merah di Pasar Global

Bawang merah bukan lagi sekadar komoditas lokal untuk bumbu rumahan. Bawang merah Indonesia kini sudah meleng gang ke pasar global menjadi komoditas ekspor yang patut diperhitungkan. Menurut Spudnik Sudjono Kamino, Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), ekspor bawang merah lokal mencapai 735,7 ton pada 2016 dan 1.782 ton pada Januari-Agustus 2017 dengan tujuan Singapura, Thailand, Vietnam, Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste. Oktober lalu bawang merah kembali diekspor ke Timor Leste dan Vietnam.

Eksis di Timor Leste

Pada Kamis (12/10), sebanyak 30 ton bawang merah asal Kab. Malaka dan Kab. Belu, Nusa Tenggara Timur diekspor ke negara tetangga, Timor Leste. Ekspor ini merupakan tahap awal dari rencana pengiriman sekitar 200 ton yang akan didistribusikan secara bertahap sepanjang 2017.

Menurut Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (Mentan), dalam sambungan telepon pada acara pelepas an ekspor bawang merah di NTT menyatakan, ekspor komoditas di daerah perbatasan ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mendiami wilayah itu. “Kita akan membangun pertanian di wilayah perbatasan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para petani dan juga memenuhi kebutuhan negara tetangga,” kata Amran.

Ani Andayani, Staf Ahli Mentan Bidang Infrastruktur menjelaskan, bawang merah yang dihasilkan petani Malaka dan Belu sudah tersertifikasi oleh Badan Karantina Kementan dan memenuhi standar kualitas yang baik. Menyinggung pengembangan bawang di NTT, penanggungjawab Program Upaya Khusus (Upsus) Provinsi NTT tersebut mengungkapkan, rencana perluasan lahan bawang mencapai 200 ha, sedangkan potensi pengembangannya mencapai 3.000- 4.000 ha.

Saat ini produktivitas bawang merah di NTT sangat memuaskan, sekitar 16 ton/ha. Angka produktivitas ini cukup jauh dari produktivitas bawang nasional yang sebesar 10 ton/ha.

Menuju Vietnam

Di Kab. Enrekang, Sulsel, Amran kembali membuka ekspor bawang merah ke Vietnam. Bawang merah sebanyak 20 ton dikirim ke negeri beribukota Hanoi itu pada Sabtu (14/10). Kegiatan ini sukses terjalin berkat kerja sama antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemprov Sulawesi Selatan, Pemkab Kabupaten Enrekang, dan Bank Indonesia.

Menurut Amran, mewujudkan kesejahteraan petani merupakan tugas setiap elemen bangsa. Sebab itu, ia berharap setiap pemangku kepentingan sektor pertanian, khususnya bawang merah, mau membeli dengan harga layak. Harga bawang merah saat ini berada di level rendah sehingga pihaknya mematok harga minimal Rp12 ribu/kg di tingkat petani.

“Saya harap Bulog dan stakeholder lain jangan beli murah bawang petani,“ tegasnya. Sementara Spudnik menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan solusi jangka pendek dan panjang dalam rangka menjaga harga bawang merah di tingkat petani. Solusi jangka pendek, yaitu meminta Bulog menyerap bawang merah sesuai harga acuan pemerintah, berkomunikasi dengan mitra industri makanan dan Toko Tani Indonesia (TTI) agar menyerap bawang merah petani, serta mendorong petani mengolah bawang merah menjadi produk yang dapat disimpan dan punya nilai jual tinggi sebagai solusi jangka pendek.

Solusi jangka panjang berupa sosialisasi teknologi budidaya ramah lingkungan, menggalakkan mekanisasi, menjalin kerja sama permanen dengan industri makanan, dan mendorong petani menghasilkan produk olahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *