Categories
Agribisnis

Kemitraan Strategis Ideal Atasi Kemiskinan

Ekonomi kerakyatan menjadi cita-cita kita dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Indonesia. Kepentingan rakyat pada umumnya dan peran serta rakyat dalam menj alankan roda perekonomian adalah dua elemen penting utama dalam menyukseskan im plementasi konsep ekonomi kerakyatan. Apabila seluruh masyarakat berpartisipasi, maka pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih berkualitas dan merata.

Data Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menunjukkan, terdapat empat komposisi kelas di dalam perekonomian masyarakat Indonesia saat ini. Sebanyak 50 juta orang termasuk kelas atas, 100 juta jiwa kelas menengah, sedangkan masyarakat yang miskin dan hampir miskin berjumlah 99 juta jiwa. Tantangan kita adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup 99 juta jiwa tersebut melalui program program, baik pemerintah maupun sektor swasta.

Menaikkan Kelas masyarakat Miskin

Sebanyak 10% masyarakat golongan kelas atas me nikmati 70% kekayaan di Indonesia. Kekayaan golongan ini tidak perlu dikurangi, tetapi kit a harus menaikkan kelas 99 juta masyarakat yang hidup di dalam garis kemiskinan. Inilah tantangan yang sesungguhnya.

Pemerintah sudah menangani ketimpangan pada sektor pendidikan dan kesehatan dengan cukup baik. Sebanyak 20% dari total dana APBN disalurkan kepada sektor pendidikan dan 89 juta rakyat Indonesia telah memiliki BPJS Kesehatan yang preminya dibayarkan langsung oleh pe merintah. Namun belum banyak program kemitraan yang dijalankan pihak swasta dan BUMN.

Banyak bantuan yang diberikan dalam bentuk bantuan finansial tetapi tanpa program pelatihan dan pemberdayaan bagi masyarakat. Pemberian bantuan seperti ini mengakibatkan program tidak berkelanjutan. Masyarakat hanya menunggu hingga bantuan berikutnya diberikan tanpa tahu bagaimana mengelola dana bantuan tersebut secara baik. Kemitraan yang strategis tidak hanya memberikan akses terhadap uang, tetapi harus disertai program pemberdayaan.

Perekrutan tenaga-tenaga muda untuk melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan pendidikan terhadap masyarak at desa merupakan faktor yang sangat penting bagi terwujudnya kemitraan strategis. Kemiskinan terbesar di wilayah desa datang dari sektor pertanian. Sebanyak 43 juta dari total 99 juta masyarakat yang hidup dalam ambang kemiskinan berasal dari sektor ter sebut.

Memang banyak bantuan finansial yang disalur kan kepada mereka, tetapi sebenarnya yang mereka butuhkan adalah tanah, alat, bibit dan pupuk. Lebih lanjut pelatihan bertani dan pemasaran merupakan contoh-contoh jenis pelatihan yang dapat diberikan kepada masyarakat tani.

Bantuan Dana dengan Pendampingan

Mengacu kepada jenis tantangan kita hadapi saat ini, bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) berbasis kemitraan strategis merupakan jalan ideal perusahaan untuk mendukung program-program pemerintah. Beberapa perusahaan di Riau sudah memulai gerakan pengen tasan kemiskinan berbasis kemitraan strategis.

Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas merupakan salah satu perusahaan yang sudah memulai upaya ini dengan cukup baik. Melalui program berkonsep ekonomi kreatif yang berbasis pada agroforestri, APP Sinar Mas memperkenalkan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat setempat melalui pembudidayaan tanaman hortikultura. Dalam prosesnya, petani juga dibimbing untuk mengembangkan tanaman yang sesuai musim untuk memaksimalkan keuntungan dan mendapatkan pelatihan pemasaran untuk memotong biaya tengkulak.

Pembekalan pengetahuan mengenai jenis komoditas yang baik untuk ditanam akan sangat membantu petani meraih keuntungan. Saat kema rau, petani misalnya diajarkan untuk menanam kangkung, bayam, melon atau jagung. Se dangkan ketika musim hujan, petani diajarkan untuk me nanam ketimun atau kacang panjang. Dalam program tersebut kami melihat konsep ekonomi kerakyatan dan kemitraan strategis dapat berjalan beriringan.

Indonesia masih mempunyai lahan yang cukup luas dan subur. Memaksimalkan penanaman komoditas yang tepat dapat turut menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan kemungkinan ekspor pada masa mendatang. Cokelat, kopi, teh, karet, dan sawit merupakan jenis-jenis komoditas yang masih dapat diolah dan ditingkatkan produksinya. Kemitraan yang diolah dengan baik tak hanya berpotensi meningkatkan taraf hidup para petani, tetapi sekaligus memam pukan Indonesia mengolah sendiri komoditas lokal yang mumpuni.

Model-model kemitraan seperti ini dapat membuka jutaan model kemitraan lainnya. Model yang dapat membantu rakyat kecil untuk memenuhi skala ekonomis melalui pengetahuan dan pemberdayaan. Melalui langkah seperti ini, kita bisa mewujudkan pembangunan ekonomi kerakyatan melalui langkah yang lebih partisipatif. Saat ini tercatat ada sekitar 1.000 perusahaan besar di Indonesia. Bila satu perusahaan dapat menargetkan 500 desa, maka bayangkan dampak positif yang dapat diciptakan perusahaan besar lainnya. Kemiskinan tidak perlu ada lagi. Pertanian hanya merupakan salah satu contoh. Kemitraan strategis tidak harus selalu melibatkan pertanian.

Beberapa perusahaan lain bermitra melalui sistem UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Model kemitraan ala APP Sinar Mas tidak hanya terbatas dalam konteks bertransfer ilmu antara perusahaan dan para petani. Para petani terse but dianjurkan dapat men transfer ilmu yang didapatkannya kepada petani lainnya, misalkan melalui kelompok tani. Tujuannya untuk saling belajar meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta mendongkrak produktivitas petani. Bentuk Kelembagaan Petani Melihat kondisi saat ini, kelembagaan petani seharusnya diarahkan menjadi kelembagaan ekonomi koperasi petani atau badan usaha yang sahamnya dimiliki petani (BUMP).

Saat ini di lapangan sudah mulai terdapat bentuk-bentuk usaha yang berpihak terhadap petani tetapi kapasitas manajerialnya belum memadai. Beberapa penyebabnya adalah kelembagaan petani masih banyak yang belum berorientasi usaha produktif, akses terhadap perbankan masih rendah, belum mampu melayani kebutuhan pengem bangan usaha bagi anggotanya, dan belum mampu menyerap sumber-sumber teknologi.

Di sinilah bantuan dari perusahaan yang berupa peningkatan keahlian (skill) dapat memperluas kemampuan para petani untuk mengelola hasil-hasil produksi tani. Indonesia adalah pusat pertumbuhan ekonomi yang baru di Asia dan berpotensi menjadi pasar terbesar di benua ini. Negara-negara lain berlomba lomba menanam investasi di negara ini, mengapa tidak kita sendiri yang mengisi pasar? Melalui penanaman komoditas hortikultura, masyarakat dapat menghasilkan sendiri dan tidak perlu lagi mendatangkan bahan pangan dari daerah lain. Masya rakat dapat berkontribusi positif bagi kemajuan perekonomian negara dengan mengurangi inflasi.

Bila inflasi turun, perekonomian masyarakat akan lebih stabil. ISEI tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Karena itu kami mengambil peran positif demi kemajuan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Kami ingin menemukan bagaimana akademisi dan praktisi dapat berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan.

Dalam hal ini, kami ingin menjadi mitra dan memberikan bantuan pendampingan bagi perusahaan-peru sahaan yang ingin mengimplementasikan program-program kemitraan strategis dalam mendukung pemerataan pertumbuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *